INTEGRASI PIKIRAN BAWAH SADAR DALAM KURIKULUM 2013

INTEGRASI PIKIRAN BAWAH SADAR DALAM KURIKULUM 2013
  Oleh: Muhammad Saleh

Abstrak
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan integrasi pikiran bawah sadar dalam kurikulum 2013. Secara rinci tujuan tersebut dijabarkan dalam tiga uraian pokok, yakni: (1) konsep kurikulum 2013; (2) konsep pikiran bawah sadar; dan (3) integrasi pikiran bawah sadar dalam kurikulum 2013. Konsep pokok kurikulum 2013 meliputi rasional kurikulum, pendekatan dalam pembelajaran, model-model pembelajaran, dan penilaian autentik. Konsep pikiran bawah sadar meliputi: jenis-jenis pikiran, dan kekuatan pikiran bawah sadar. Berdasarkan konsep kurikulum 2013 pada satu sisi dan konsep pikiran bawah sadar pada sisi lain, selanjutnya bermuara pada salah satu tawaran konseptual yakni integrasi pikiran bawah sadar dalam kurikulum 2013 melalui dua strategi yakni (1) infiltrasi nilai, dan (2) spektrum kompetensi.
Kata kunci: Integrasi, pikiran bawah sadar, kurikulum 2013, infiltrasi nilai, spektrum kompetensi

Salah satu penekanan kurikulum 2013 adalah adanya keseimbangan antara tiga ranah pokok dalam pendidikan yakni kognitif, afektif, dan psikomotor. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, kurikukum 2013 secara eksplisit mencantumkan ranah afektif sebagai salah satu kompetensi dalam struktur kurikulum. Implikasinya, seorang guru harus menjadikan aspek afektif sebagai bagian dari proses pembelajarannya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya. Dengan demikian, tolok ukur keberhasilan pembelajaran tidak hanya disandarkan pada pencapaian kompetensi kognitif dan psikomotorik semata. Namun, harus juga mempertimbangkan pencapaian kompetensi afektif. Bahkan, secara hierarkis, kompetensi afektif ditempatkan pada urutan awal sebelum kompetensi kognitif dan psikomotor. Inilah yang menjadi tujuan pendidikan nasional, yakni membentuk manusia Indonesia seutuhnya -jasmani dan rohani. Salah satu tawaran teoretik yang dapat menunjang keberhasilan kurikulum 2013, terutama dalam ranah afektif dalah pengintegrasian pikiran bawah sadar dalam kegiatan pembelajaran.

Kurikulum 2013
Konsep pokok kurikulum 2013 yang diuraikan dalam topik ini meliputi empat aspek, yakni (1) rasional kurikulum; (2) pendekatan dalam kurikulum 2013; (3) model-model pembelajaran; dan (4) penilaian autentik dalam kurikulum 2013.
Rasional kurikulum dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum merupakan suatu keniscayaan. Semua yang ada di jagat raya ini, sebagai objek pembelajaran senantiasa berubah. Pagi berganti siang; siang berganti petang, petang berganti malam, dan malam pun berganti fajar. Tumbuhan, hewan, cuaca, semuanya hidup dalam siklus perubahan. Manusia sebagai subjek pembelajaran pun senantiasa berubah, dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, hingga lansia. Oleh karena itu, para pelaku pendidikan seyogyanya menyikapi perubahan kurikulum dengan pandangan positif, bukan sebaliknya. Berpijak pada fakta-fakta itulah, sehingga kita melihat kurikulum di Indonesia senantiasa mengalami perubahan dengan fase-fase berikut. Tahun 1947 dengan konsep Rencana pembelajaran diuraikan dalam rencana pembelajaran terurai; tahun 1964, rencana pendidikan sekolah dasar; tahun 1968, kurikulum sekolah dasar; tahun 1973, kurikulum proyek perintis sekolah pembangunan (PPSP); kurikulum 1975; kurikulum 1984; kurikulum 1994; kurikulum 2014 berbasis kompetensi (KBK); kurikulum 2006 (KTSP), dan kurikulum 2013.
Salah satu rasional perubahan kurikulum 2013 adalah kondisi SDM (Sumber Daya Manusia Indonesia). Berdasarkan perhitungan statistik, diprediksi bahwa pada tahun 2020-2035 SDM Indonesia melimpah. SDM tersebut perlu dipersiapkan secara matang sejak dini agar kelak menjadi modal pembangunan, bukan beban pembangunan. Oleh karena itu, perlu dilakukan perubahan kurikulum sebagai salah satu wujud transformasi pendidikan. Namun, perlu diingatkan bahwa perubahan kurikulum perlu didukung oleh aspek yang lain. Salah-satu faktor pendukungnya adalah kesiapan guru untuk terus melakukan perbaikan dan kreativitas dalam pembelajaran, termasuk kesiapan mengimplementasikan kurikulum 2013.
Rasional lain terkait dengan pentingnya penyempurnaan pengelolaan pembelajaran secara berkelanjutan. Mengubah situasi pembelajaran dari: pembelajaran berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada siswa; pembelajaran bersifat satu arah menjadi pembelajaran yang besifat multi arah; pembelajaran yang terisolasi menjadi pembelajaran dalam lingkungan jejaring; pembelajaran yang bersifat pasif menjadi pembelajaran yang aktif-menyelidiki; penyampaian pengetahuan menjadi pertukaran pengetahuan. Berdasarkan arah perubahan tersebut, peran guru akan bergeser dari peran mengajar menjadi fasilitator. Dengan demikian, mind set siswa bukan lagi diberi tahu, tetapi mencari tahu.
Berdasarkan rasional perubahan kurikulum 2013, kegiatan pembejaran perlu dilakukan dengan menerapkan pendekatan saintifik (scientific approach). Konsep pendekatan saitifik memuat lima langkah pokok, yakni: (1) observing (mengamati); (2) questioning (menanya); (3) associating (menalar); (4) experimenting (mencoba); dan (5) networking (membentuk jejaring). Kelima langkah ini menyentuh tiga ranah yakni: sikap (tahu mengapa), pengetahuan (tahu apa), dan keterampilan (tahu bagaimana). Hasil belajar yang diharapkan adalah peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara terintegrasi.
Secara teknis, pendekatan saintifik tersebut selanjutnya dijabarkan dalam model-model pembelajaran. Ada tiga model pembelajaran yang direkomendasikan dalam kurikulum 2013, yaitu: (1) Project Based Learning; (2) Problem Based Learning; dan (3) Discovery Learning. Penerapan model Project Based Learning, secara operasional dilakukan melalui enam langkah pokok, yakni: (a) penentuan pertanyaan mendasar; (b) penyusunan perencanaan pokok; (c) penyusunan jadwal; (d) pemantauan (monitoring); (e) menguji hasil; dan (f) evaluasi pengalaman. Adapun proses penialaiannya dilakukan dengan mempertimbangkan: kemampuan pengelolaan, relevansi, dan keaslian. Penerapan model Problem Based Learning secara operasional dilakukan melalui lima langkah pokok, yakni (a) konsep dasar (basic concept), (b) pendefinisian masalah (defining the problem); (c) pembelajaran mandiri (self learning); (d) pertukaran pengetahuan (exchange knowledge); dan (e) penilaian (assessment). Adapun langkah-langkah operasional model Discovery Learning, adalah (1) langkah persiapan; (2) langkah pelaksanaan; meliputi (a) stimulation (stimulasi), (b) problem statement (pernyataan/identifikasi masalah), (c) data collection (pengumpulan data), (d) data processing (pengolahan data), (e) verification (verifikasi), dan (f) generalization (genaralisasi/penarikan kesimpulan.
Untuk menjamin kualitas pembelajaran, diterapkan penilaian autentik (authentic assessment) dalam kurikulum 2013. Penilaian autentik merupakan pengukuran yang bermakna secara signifikan atas proses dan hasil peserta didik secara menyeluruh melalui ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terintegrasi. Penilaian autentik melibatkan partisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan digunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Jenis penilaian autentik ada empat yaitu: (a) penilaian kinerja, (b) penilaian proyek, (c) penilaian portofolio, dan (d) penilaian tertulis.
Berpijak pada konsep-konsep dasar kurikulum 2013 melalui rasionalisasi, pendekatan saintifik, model-model pembelajaran berbasis masalah, proyek dan inkuiri, serta penilaian autentiknya, dapatlah disimpulkan bahwa kurikulum 2013 memberikan ruang bagi integrasi pikiran bawah sadar. Hal tersebut akan bermuara pada integrasi tiga ranah pengetahun, yakni afektif, kognitif, dan psikomotor. Dalam padangan Agustian (2004), maksimalisasi interasi tersebut akan membangkitkan ESQ Power, sebuah inner journey melalui al-ihsan.

Pikiran Bawah Sadar
Salah satu kelebihan manusia dibandingkan makhluk yang lain adalah kemampuan manusia untuk berpikir. Bahkan, Aristoteles menggelari manusia sebagai hewan yang berpikir. Artinya, tanpa aktivitas berpikir, manusia serupa dengan hewan. Namun, eksplorasi pikiran yang banyak dilakukan, terutama dalam dunia persekolahan, sebagian bertumpu pada ekplorasi otak kiri atau dalam perpektif lain otak sadar. Adapun otak kanan atau otak bawah sadar kurang dieksplorasi.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat kita tegaskan bahwa otak dan pikiran manusia dapat dikelompokkan –namun tidak terpisah- menjadi empat istilah, yakni (1) otak kiri, (2) otak kanan, (3) pikiran sadar, dan (3) pikiran bawah sadar. Ippho (2010) memetakan perbedaan otak kiri dengan otak kanan. Prinsip kerja otak kiri antara lain adalah berpikir matematis, kognitif, rasional, dan linier. Sebaliknya, prinsip kerja otak kanan di antaranya adalah etika, estetika, imanjinasi, dan lateral. Dalam perpektif yang lain, dikenal pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar cenderung bekerja seirama dengan otak kiri. Sedangkan pikiran bawah sadar bekerja seirama dengan proses kerja otak kanan. Dalam tulisan yang terbatas ini, pembahasan difokuskan pada pikiran bawah sadar.
Murphy (2002) menguraikan topik-topik penting tentang rahasia kekuatan pikiran bawah sadar. Topik tersebut meliputi: (1) rahasia kekuatan pikiran bawah sadar; (2) Tempat penyimpanan harta di dalam diri kita; (3) kekuatan ajaib pikiran bawah sadar; (4) Penyembuhan mental melalui pikiran bawah sadar; (5) para ilmuan menggunakan pikiran bahwa sadar; (6) pikiran bawah sadar dan kebebasan financial; (7) pikiran bawah sadar dan keajaiban tidur; (8) pikiran bawah sadar dan kebahagiaan; (9) pikiran bawah sadar untuk memaafkan; dan (10) pikiran bawah sadar dan hubungan antarmanusia.
Adapun kinerja kekuatan pikiran bawah sadar digambarkan oleh Muhaya (2014) melalui diagram berikut:

Secara alamiah, pada umumnya manusia berpikir berdasarkan keadaan yang sedang mereka hadapi. Jika keadaanya positif, maka ia pun akan berpikir positif. Sebaliknya, jika keadaannya negative, maka ia pun akan berpikir negatif. Ketika seseorang telah memilih pikiran –entah negatif atau positif- maka proses selanjunya adakan berjalan secara otomatis. Pikiran negatif-mengasilkan emosi negatif-menghasilkan tindakan negatif-menghasilkan hasil kehidupan negatif-dan akhirnya kembali ke siklus keadaan negatif. Demikian pula sebaliknya, ketika seseorang berhasil memilih pikiran positif, akan mempengaruhi emosi positif, dan akhirnya akan menciptakan keadaan positif.
Berdasarkan bagan tersebut, tampak bahwa hubungan antara keadaan dengan pikiran disimboli dengan garis putus-putus. Artinya, keadaan seseorang sebenarnya tidaklah secara otomatis mempengaruhi pikirannya. Meskipun secara alamiah, seringkali berhubungan secara langsung. Namun, secara prinsip, hubungan tersebut bersifat arbitreri, yakni manusia bisa memilih pikiran meskipun bertentangan dengan keadaan dirinya. Dengan demikian, hasil kehidupan manusia bukan ditentukan oleh keadaannya melainkan oleh pikirannya. Di sinilah letak kekuatan pikiran bawah sadar. Sekali seseorang memilih pikiran –positif atau negatif- maka secara otomatis akan mempengaruhi emosinya dan selanjutnya akan berjalan secara otomatis.

Integrasi Pikiran Bawah Sadar dalam Kurikulum 2013
Dalam proses pembelajaran, siswa melewati dua tahapan pokok yakni: (1) internalisasi ilmu pengetahuan, dan (2) eksternalisasi ilmu pengetahuan. Internalisasi merupakan tahapan ketika siswa menyerap/menerima ilmu pengetahuan. Adapun eksternalisasi merupakan tahapan ketika siswa menunjukkan/menyampaikan ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya. Berdasarkan konsep kurikulum 2013 pada satu sisi dan konsep pikiran bawah sadar pada sisi lain, selanjutnya bermuara pada salah satu tawaran konseptual yakni integrasi pikiran bawah sadar dalam kurikulum 2013 melalui dua strategi pokok yakni (1) infiltrasi nilai dalam proses internalisasi dan (2) spektrum kompetensi dalam proses eksternalisasi.
Infilrasi nilai merupakan strategi yang sejatinya diterapkan oleh guru ketika siswa dalam proses internaliasi ilmu pengetahuan. Hal ini sangat strategis karena kurikulum 2013 menghendaki agar dalam setiap pembelajaran diharapkan nilai-nilai dari KI-1 (kompetensi Inti tentang sikap ketuhanan) dan KI-2 (Kompetensi Inti tentang sikap pribadi dan social) diintegrasikan melalui KI-3 (Kompetensi Inti tentang Pengetahuan) dan/atau KI-4 (kompetensi Inti tentang keterampilan). Jika hal ini dapat didayagunakan secara maksimal, maka nilai-nilai tersebut (KI-1 dan KI-2) secara perlahan-lahan menyusup masuk ke dalam setiap ranah pengetahuan maupun keterampilan peserta didik. Sejalan dengan itu, Almatin (2010) mengemukakan tiga teknik dasar dalam hypnosis learning, yakni: teknik afirmasi, sugesti, dan visualisasi.
Untuk mengontrol keberhasilan infiltrasi nilai, diperlukan strategi pengontrolan melalui spektrum kompetensi. Spektrum kompetensi merupakan strategi yang dapat diterapkan guru ketika siswa dalam proses eksternalisasi ilmu pengetahuan. Istilah tersebut digunakan untuk membuat formulasi integrasi antarkompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan konsep spektrum kompetensi ini dinyatakan bahwa ketiga ranah pendidikan itu pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang utuh dan bekerja secara hierarkis. Seseorang akan terampil jika memiliki pengetahuan yang memadai. Agar pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang memiliki value maka semuanya perlu didasarkan pada nilai sikap, baik sikap sosial, maupun sikap religius. Inilah yang uraikan Agustian (2004) melalui topik metakecerdasan sinergi EQ, IQ, dan SQ.
Melalui integrasi pikiran bawah sadar inilah, peserta didik akan senantiasa memunculkan ide-ide baru yang merupakan kombinasi dari elemen-elemen lama. Sebagaimana di-tagline-kan Dryden (2003), “Tidak ada elemen baru, yang ada hanyalah kombinasi-kombinasi baru”.

Penutup
Berdasarkan uraian sebelumnya dapatlah disimpulkan tiga poin berikut.
1. Kurikulum 2013 memberikan ruang bagi integrasi pikiran bawah sadar.
2. Kekuatan pikiran bawah sadar memungkinkan peserta didik untuk melejitkan potensinya sesuai dengan imajinasi yang mereka bangun –bukan sekadar sesuai dengan persangkaan kemampuan yang mereka miliki.
3. Integrasi pikiran bawah sadar dalam kurikulum 2013 dapat dilakukan melalui dua strategi yakni: (a) infiltrasi nilai, dan (2) spektrum kompetensi.
Demikianlah makalah ini disusun sebagai bahan inovasi pembelajaran dalam rangka membangun bangsa yang bermartabat di masa mendatang.

Daftar Pustaka
Agustian, Ary Ginanjar. 2003. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power: sebuah Inner Journey melalui Al-Ihsan. Jakarta: Arga.
Almatin, MD. Isma. 2010. Dahsyatnya Hypnosis Learning untuk Guru dan Orang Tua. Yogyakarta: Putaka Widyatama.
BPSDMPK PMP Kemdikbud. 2013. E:\KURIKULUM 2013\PPT PELATIHAN GURU DALAM RANGKA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013\ppt umum. Jakarta.
Dryden, Gordon & Vos, Jeannette. 2003. Revolusi Cara Belajar: Bagian 1 Keajaiban Pikiran. Bandung: Kaifa.
Hakim, Andri. 2010. Hypnosis in Teaching: Cara dahsyat Mendidik dan Mengajar. Jakarta: Visimedia.
Moehammad, Muhaya. Reset Minda: Sains Kehidupan. (online, youtube). Diakses 20 Februari 2014.
Murphy, Joseph. 2002. The Power of Your Subconscious Mind. Jakarta: Mitra Utama
Santosa, Ippho. 2010. 13 Wasiat Terlarang: Dahsyat dengan otak kanan. Jakarta: Gramedia.

KESANTUNAN BERBAHASA

Abstrak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan ancangan teori etnografi komunikasi, teori tindak tutur, dan teori kesantunan berbahasa. Hasil analisis data menunjukkan keragaman wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik yang secara deskriptif direpresentasikan melalui dua wujud penggunaan bahasa. Pertama, penggunaan diksi, meliputi: (1) penamaan diri, (2) penggunaan kata ganti, dan (3) penggunaan gelar. Kedua, penggunaan tuturan, meliputi: (a) tuturan modus deklaratif, (b) tuturan modus imperatif, dan (c) tuturan modus interogatif.